October 4, 2016

Inilah Alasan Kenapa Mereka Bisa Sukses Tanpa Sekolah/Kuliah

Banyak orang yang mengidentikan "Drop-Out" dengan kesuksesan, hal itu karena memang sudah banyak orang yang putus sekolah atau sengaja memutuskan sekolah pada akhirnya sukses. 

Sebut saja di luar negeri ada Thomas Alva Edison, Abraham Lincoln, Bill Gates, Paul Allen, Mark Zuckerberg, Steve Job, Larry Ellison, Oprah Winfrey, Richard Branson, Henry Ford, Walt Disney, Steven Spielberg, Aristotle Onassis, Toph Ittipat, dan masih banyak lagi.

Di dalam negeri ada Eka Cipta Wijaya, Bob Sadino, Susi Pujiastuti, Ajip Rosidi, Pramoedya Ananta Toer, Arief Widhiyasa, Raditya Dika (sukses dulu, baru kuliah), Bustaman Sederhana, Reza Nurhilman, Andianto Setiabudi, Irwan Hidayat, dan masih banyak lagi.

Sukses - liputan6.com
Pertanyaan kita kemudian
Kenapa mereka bisa sukses walau tidak punya gelar sarjana?
Berikut beberapa rahasianya...

Anak kecil yang sudah bekerja keras (gambar hanya pemanis)
Memulai Sejak Masih Kecil

Ketika kita masih kecil, kita menghabiskan waktu bermain PS dan nonton film kartun, tidak sama halnya dengan Bill Gates. Sejak kecil dia sudah mengutak-atik komputer, begitu juga dengan Mark Zuckerberg, maka tak heran ketika mereka lulus SMA dan masuk kuliah, ilmu mereka sudah jauh melampaui apa yang diajarkan di perkuliahan. Tak merasa ada manfaat yang mereka dapat dari berkuliah, mereka pun mulai jarang masuk kelas, sibuk menerapkan ilmu yang mereka punya di dunia nyata.

Seseorang sedang mencari buku - amazonaws.com
Menganggap "Belajar" Lebih Penting Dari "Sekolah"

Ketika SMP, Ajip Rosidi merasa terhina karena pada saat UN, dia jujur sementara teman-temannya melakukan kecurangan. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Lulus dari SMP, dia belajar secara otodidak. Bukan untuk mendapat gelar sarjana, tapi justru untuk membuktikan pada teman-temannya bahwa untuk menjadi sukses, yang diperlukan adalah ilmu, bukan ijazah apalagi ijazah yang didapatkan dengan cara-cara kotor. Akhirnya, banyak tulisan Ajip Rosidi yang lolos terbit di beberapa majalah, koran, hingga dicetak menjadi buku (dari mulai esai sampai cerita pendek). Kini, orang yang hanya lulusan SMP itu telah menjadi dosan kehormatan di Universitas Padjajaran hingga jadi dosen tamu di 2 universitas terkemuka di Jepang.

Bob Sadino adalah salah satu orang sukes saat ini
Menganggap Belajar di Lapangan Lebih Penting
Daripada Belajar di Dalam Kelas

Bob Sadino berkali-kali mengkritik sistem pendidikan mainstream yang hanya mengajarkan teori-teori yang tidak aplikatif. Hal itu juga menurutnya yang menjadi penyebab kenapa di dunia banyak pengangguran, sebab orang-orang hanya diberi teori-teori, bukan diasah kreatifitasnya untuk bertahan hidup dalam kesulitan. Bob Sadino berkata bahwa dunia nyata tidak sama dengan teori di sekolah. Maka dari itu, jika mau sukses di dunia nyata, belajarlah di dunia nyata. Ibarat mau berenang, ya belajar di kolam renang, bukan belajar teori di dalam kelas.

Orang dengan semangat yang membara - telexindo.com/
Tidak Takut Gagal Karena Pasti Gagal

Ketika keluar dari ITB dan mendirikan Agate Studio (sebuah perusahaan game developer), Arief Widhiyasa tidak takut untuk gagal. Sebab orang kuliah pun banyak yang gagal. Daripada kuliah gagal, lebih baik mengerjakan apa yang dicintai lalu gagal. Tapi nyatanya, dia memang gagal. Namun tidak serta merta menyerah. Dia bangkit lagi dan mempelajari hal-hal baru dari kegagalan hingga akhirnya bisa sukses.


Menikmati Hidup Mengerjakan Apa Yang Disukai

Thomas Alva Edison dibuang dari sekolah karena dianggap aneh dan bodoh. Sejak kecil, dia belajar membaca dari ibunya, lalu belajar sains secara otodidak di perpustakaan kota. Dia tidak ambil pusing bahwa dia tidak sekolah, dia hanya menjalani hidupnya mengerjakan apa yang dia sukai. Menjawab rasa penasarannya akan kehidupan dengan ilmu sains. Asyik bermain-main dengan sains, tak terasa, sudah ribuan penemuan sains dia temukan.

Hidup itu pilihan, maka pilihlah yang terbaik - wallpaperswide.com
Menganggap Setiap Orang Punya Jalan Yang Berbeda-Beda

Sistem sekolah itu dimana-mana relatif sama. Misalnya di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, sistem sekolah itu ya satu. Tapi dari Sabang sampai Merauke, ada nyaris 300 juta manusia. Apakah satu sistem itu bisa cocok untuk 300 juta manusia? Tentu wajar jika ada beberapa orang yang tidak merasa cocok sehingga mereka menciptakan sistem sendiri untuk mencapai pendidikan dan kesuksesan. (DTL#1)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner