February 1, 2017

Mengenal “Latte Factor”, Bahaya Baru yang Menggerogoti Orang Indonesia

Kebanyakan orang tidak menyadari berapa banyak uang yang mereka keluarkan, bukan dalam pembelian besar, tetapi dalam hal-hal kecil yang sebenarnya kita menghabiskan uang setiap hari. Hal ini disebut Latte Factor. Apa itu latte fator? Istilah latte factor ini ditemukan oleh David Bach, penulis buku finansial ternama. Pengertian latte factor adalah pengeluaran untuk hal yang sebenarnya tidak perlu, yang terlihat kecil dan tanpa sadar dilakukan terus menerus, hingga akhirnya membuat pengeluaran membengkak.

The Latte Factor - biblemoneymatters.com
Nah, menurut sudut pandang David Bach ini terdapat beberapa hal umum yang masuk dalam kategori Latte Factor. Apa saja sih hal umum yang sebenarnya bisa menggerogoti kekayaan kita? Yuk simak kajian BukanBerkilah tentang beberapa hal yang termasuk dalam Latte Factor berikut ini.

1. Makan
Kebanyakan orang yang sudah berpenghasilan alias sudah bekerja biasanya memiliki kecenderungan makan di tempat-tempat yang wah. Padahal sebenarnya yang perlu kita makan ya cukup sesuai anjuran para ahli gizi saja. Ibarat kata sama-sama makan nasi sayur lauk telur, tetapi si A memilih tempat makan di warteg dan si B memilih tempat makan di resto yang wah dan dilengkapi fasilitas wi-fi. Sudah bisa ditebak kan kalau harga makanan lebih murah di warteg daripada di resto yang wah walaupun menunya sama. Okelah hal ini bukan masalah kalau seminggu sekali atau sebulan 2 kali. Tapi akan menjadi masalah kalau hampir setiap hari makan di resto yang wah, padahal menunya juga sama saja dengan warteg.

2. Kopi
Kebiasaan orang masa kini adalah ngopi alias minum kopi. Sebenarnya bukan masalah besar sih kalau ngopinya bikin sendiri atau kalaupun beli ya beli di warung. Yang jadi masalah adalah kalau kebiasaan beli kopi di tempat-tempat yang lagi ngehits dan wah. Masih masuk logika juga kalau masih dalam batasan seminggu 1 atau 2 kali. Yang jadi bahaya kalau sudah hampir setiap hari beli kopi di tempat mewah. Secara harga tentu lebih mahal dari beli di warung.

3. Buku dan Majalah
Menurut David Bach pembelian buku dan majalah juga termasuk dalam kategori latte factor lho sob. Karena gini, pembelian buku atau majalah memang merupakan hal kecil, tetapi tanpa sadar jika keterusan dan parahnya lagi yang dibaca bukan keseluruhan isi, tetapi bagian-bagian atau rubrik tertentu saja. Itu mubadzir sob.

4.  Layanan Utilitas yang Tidak Digunakan
Yang termasuk dalam kasus ini seperti penggunaan saluran tv kabel ataupun telepon rumah sob. Termasuk dalam latte factor apabila sobiwan-sobiwati punya saluran tv kabel tetapi kalian tidak pernah menontonnya karena kesibukan kalian setiap hari. Selain itu keberadaan telepon rumah dinilai sudah tidak terlalu berpengaruh dimana pada masa sekarang ini sudah hampir seluruh orang memiliki handphone, jadi, amat disayangkan saja kalau punya telepon rumah tetapi tidak pernah dipakai tetapi tetap kena pajak per bulannya kan.

5. Ekstra Pembayaran Pelayanan Bank
Dalam hal ini sebenarnya masih agak bingung gimana maksud dari David Bach ini. Tapi, BukanBerkilah mencoba mendefinisikan kasus ini mirip dengan penggunaan kartu kredit. Yap, kartu kredit memang terlihat wah. Dengan limit tertentu dan pembayarannya terlihat ringan tiap bulannya, tetapi sebenarnya pola hidup dengan kartu kredit ini bisa dikategorikan pemborosan sob. Karena secara tidak sadar kita memiliki hutang dan pajak bunga dari penggunaan kartu kredit itu sob. Mendingan pakai pembayaran cash atau kartu debet saja kan.

6. Tiket Undian Berhadiah
Biasanya undian berhadiah itu disematkan oleh penjual suatu produk agar menarik para calon pembeli. Bukan jadi masalah kalau kita sebagai pembeli hanya membeli satu barang saja. Yang jadi masalah adalah kalau kita membeli barang yang sama berkali-kali hanya untuk mendapatkan tiket undian berhadiah sambil berharap kita memenangkan undian tersebut dan menjadi kaya. Ingat sob, kalau mau menjadi kaya dan sukses itu bekerja, bukan ikut undian.

7. Belanja Online
Di era serba online ini berbelanja online tentu sudah menjadi suatu kemudahan bagi kita. Tetapi, jika dalam belanja online itu membuat kita jadi serba tertarik untuk beli yang di online shop terus menerus tentu saja akan membahayakan ekonomi kita sob. Secara tidak sadar tentu kita akan mengeluarkan biaya extra untuk ongkos kirimnya kan. Nah, coba deh lebih bijak, kalau barang tersebut dijual disekitar kita, ya kita beli secara offline saja, hitung-hitung hemat ongkos kirim sob.

8. Biaya Langganan Aplikasi Smartphone
Biasanya yang termasuk dalam kategori biaya langganan aplikasi smartphone ini seperti aplikasi lagu seperti I-Tunes atau sejenisnya. Mungkin biar lebih hemat kalau mau mendengarkan lagu ya kita buka saja aplikasi youtube di smartphone kita. Minimal kan hanya membayar kuota internet saja sob.

Ada 8 yang dapat dikategorikan sebagai latte factor, kemudian kami akan memberikan sebuah contoh bagaimana latte factor bisa terjadi :

Hanna (25), adalah seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta yang gemar minum kopi. Ia selalu minum kopi di kedai yang harga satu cangkir kopinya bisa mencapai Rp 50.000. Lama – lama, perilaku konsumsi ini menjadi kebiasaan sehari – hari Hanna, tanpa Ia sadari.

Setiap bulan, perempuan lajang ini bisa menghabiskan Rp 700.000 sampai Rp 1.000.000 untuk membeli kopi. Bila diakumulasikan, kata Hanna, rasanya memang berat. Namun, gaya hidup seperti itu cukup memberi kesenangan tersendiri bagi Hanna. Oleh karena itu, kebiasaan tersebut sulit ditinggalkan.

Istilah latte factor ditemukan oleh David Bach, penulis buku finansial ternama. Latte factor adalah pengeluaran untuk hal yang sebenarnya tidak perlu, yang terlihat kecil dan tanpa sadar dilakukan terus menerus, hingga akhirnya membuat pengeluaran membengkak.

Selain kopi, pengeluaran untuk baju, kosmetik, transportasi online, biaya transaksi perbankan juga merupakan latte factor.

Gaya hidup seperti itu bisa jadi berbahaya. Bahkan, bisa-bisa pengeluaran lebih besar daripada penghasilan yang diperoleh setiap bulannya. Sebuah riset dari Kadence International Indonesia pada tahun 2013 menemukan fakta bahwa 28 persen masyarakat Indonesia memiliki pengeluaran yang lebih besar daripada pendapatan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2015 juga menyatakan masyarakat Indonesia semakin konsumtif dan mulai meninggalkan kebiasaan menabung. Hal itu tergambar dari menurunnya Marginal Propensity to Save (MPS) dan naiknya Marginal Prosperity to Consume (MPC) selama tahun 3 tahun terakhir sebelum 2015.

Mulai sekarang coba pikirkan, apa latte factor Anda? Jangan – jangan faktor tersebut yang menjadi alasan dompet selalu tipis. (DTLD#1#19.SB#5)

Jadi, tidaklah penting seberapa besar penghasilan yang kamu bisa dapatkan, namun jauh lebih penting seberapa besar dari penghasilan kamu tersebut yang dapat kamu simpan.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner